Wednesday, October 9, 2013




Dari hasil presentase wawancara yang telah penulis lakukan di lingkungan kampus, penulis menemukan bahwa pengaplikasian bahasa baku masih sangatlah rendah. Rata-rata mahasiswa cenderung menggunakan bahasa non baku dan bahasa daerah. Dari beberapa pertanyaan, pengertian Bahasa bakulah yang menempati urutan presentase tertinggi, kemungkinan disebabkan karena Pengetian Bahasa Baku  sudah sering  didengar dari orang-orang disekitar mereka, misalkan guru mereka saat di Sekolah. Memang bukanlah hal mudah untuk menerapkan bahasa baku dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan akademis. Selain itu Indonesia memiliki ragam suku, dengan dialek yang berbeda-beda. Jadi wajar jika penerapan bahasa baku masih langka di kalangan masyarakat. Namun, kali ini penulis akan membahas tentang penerapan bahasa baku di kalangan mahasiswa yang masih rendah dan kiat-kiat untuk menerbitkan kembali bahasa baku Indonesia yang perlahan terbenam karena pengaruh globalisasi.
Sebelumnya penulis akan memberikan pegertian singkat dari Bahasa Baku, menurut ahli linguistik Einar Haugen “Bahasa Baku ialah satu jenis bahasa yang menggambarkan keseragaman dalam bentuk dan fungsi bahasa.”

Berikut ini penulis mencoba menjelaskan apa-apa saja fungsi dari Bahasa Baku Indonesia.

Yang pertama, Bahasa Indonesia baku  merupakan pemersatu. Bahasa Indonesia baku adalah pemersatu atau memperhubungkan penutur berbagai dialek bahasa itu. Bahasa Indonesia baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia baku mengikat kebhinekaan rumpun dan bahasa yang ada di Indonesia dengan membatasi batas-batas kedaerahan. Bahasa Indonesia baku merupakan wahana atau alat pengungkap kebudayaan nasional yang utama.
Kedua, Bahasa Indonesia baku merupakan cirri khas yang membedakannya dengan bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Indonesia baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat Indonesia. Dengan bahasa Indonesia baku kita menyatakan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
Ketiga, Bahasa Indonesia baku merupakan penambah wibawa. Pengguna bahasa Indonesia baku akan membawa wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa berkaitan dengan usaha mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi melalui pemerolehan bahasa baku. Disamping itu, pemakaian bahasa yabg mahir berbahasa Indonesia baku “dengan baik dan benar” memperoleh wibawa dimata orang lain.
Terakhir, Bahasa Indonesia baku juga sebagai kerangka acuan. Bahasa Indonesia baku sebagai kerangka acuan bagi pemakainya dengan adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku menjadi tolok ukur pemakaian bahasa Indonesia baku secara benar. Oleh karena itu, penilaian pemakaian bahasa Indonesia baku dapat dilakukan. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku juga menjadi acuan umum bagi segala jenis pemakaian bahasa yang menarik perhatian karena bentuknya yang khas, seperti bahasa ekonomi, bahasa hukum, bahasa sastra, bahasa iklan, bahasa media massa, surat-menyurat resmi, bentuk surat keputusan, undangan, pengumuman, kata-kata sambutan, ceramah, dan pidato.
Nah, dari sini sudah sangatlah jelas, bahwa betapa pentingnya penggunaan bahasa Indonesia baku. Terutama dikalangan mahasiswa, yang merupakan generasi penerus, pengemban amanat, kebanggan bangsa, serta menjadi panutan di masyarakat. Tetapi kembali lagi karena masalah suku dan Gaya, kebanyakan mahasiswa susah atau bahkan malas untuk berbicara dalam bahasa baku yang sesuai dengan EYD. Alasan mereka adalah susah, aneh, tidak terbiasa, janggal, tidak tahu, dan lain sebagainya.
Para mahasiswa cenderung menggunakan kata-kata yang mempunyai sifat yang khas seperti, penggunaan kalimat yang sederhana, singkat, kurang lengkap, dan tidak banyak menggunakan kata penghubung, serta menggunakan kata-kata yang biasa dan lazim dipakai sehari-hari. Contoh: bilang, bikin, pergi, biarin. Bahasa-bahasa inilah yang sering digunakan oleh kalangan mahasiswa kebanyakan, karena dianggap modern.
Sebenarnya penerapan bahasa baku tidaklah susah dan serumit yang dipikirkan dalam penggunaanya pada percakapan sehari-hari. Kita hanya perlu untuk membiasakan diri dengan sering membaca koran, artikel-artikel ilmiah, novel-novel sastra, atau juga menonton berita. Didalam koran, artikel, maupun karya-karya sastra, sudah pasti penulisan yang digunakan sesuai dengan EYD. Jadi, ini sangatlah baik bagi mahasiswa untuk memperbanyak membaca dan juga mendengar berita, karena selain menambah wawasan, para mahasiswapun bisa belajar menelaah bahasa-bahasa yang digunakan didalamnya, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena jika bukan kita, siapa lagi?
Oleh karena itu, sebaiknya kita sebagai mahasiswa generasi penerus bangsa, haruslah mulai membiasakan diri dan menghidupkan kembali bahasa Indonesia yang baku dan baik di dalam kehidupan sehari hari, mengingat beberapa fungsi bahasa Indonesia yang adalah bahasa nasional, identitas nasional dan juga sebagai bahasa kebanggaan bangsa kita.
06 July 2013 | 06:48


    sumber : Nurhayyu Suprihatin
                  Http://ekonomi.kompasiana.com
  



        
Senin, 07-Nopember-2011, 07:32:46




           Kelompok pemuda dan mahasiswa melakukan konsolidasi di Jakarta dan di salah satu tuntutan mereka adalah percepatan pergantian kepemimpinan nasional menjadi syarat utama. Seruan menurunkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono menggelora. Cenederung aksi/gerakan mahasiswa terlalu emosional menyikapi carut marut sistem presidensil dan situasi nasional sekarang. Kalau mau percepatan, harus ada tatanan dan sistemnya terlebih dahulu. Bagaimana supaya tidak terjadi kekacauan dan gejolak dimana-mana.
           Gerakan mahasiswa sejati selalu bertumpu pada idealisme kerakyatan, yaitu mengkritisi peran atau kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat dengan memberikan solusinya yang berkeadilan sosial. Sekarang ini banyak gerakan mahasiswa ditunggangi oleh satu kekuatan partai politik, kelompok elite, atau pemodal tertentu. Gerakan mahasiswa telah ditunggangi pihak-pihak tertentu hanya bertujuan untuk kepentingan politik pragmatis semata. Pergerakan kalangan ini sudah di-setting oleh pihak-pihak tertentu.
           Gerakan mahasiswa semacam inilah yang dinamakan dipolitisasi atau depolitisasi. Semangat perjuangan gerakan mereka bukan lagi untuk rakyat, melainkan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karakteristik gerakan ini cenderung tidak konsisten dan konsekuen terhadap isu yang diusungnya. Mahasiswa adalah generasi penerus harapan bangsa, yang sangat dibutuhkan dan didambakan visi kerakyatan kepemimpinannya. Jika sebelum menjadi pemimpin saja sudah demikian, bagaimanakah nasib bangsa dan negara ini di masa depan saat mereka memimpin?
            Unjuk rasa yang sering dilakukan oleh mahasiswa akhir-akhir ini sering menjurus ke tindakan kekerasan dan anarkisme. Ini sungguh memalukan. Meski bagaimanapun unjuk rasa atau demonstrasi itu hanyalah salah satu metode untuk mengungkapkan dan mengevaluasi kepemimpinan yang sedang berkuasa. Aksi/Gerakan Mahasiswa harus memikirkan potensi kehancuran negara kalau perubahan itu didasari emosi belaka dan selalu menerapkan trial and error. Bisa terjadi perebutan kekuasaan di daerah-daerah, terjadilah negara-negara kecil seperti Uni Soviet.

Wawan Budyawan, Spd
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya



                                                                                                       sumber : http://www.mimbar-opini.com