Senin, 07-Nopember-2011, 07:32:46
Kelompok
pemuda dan mahasiswa melakukan konsolidasi di Jakarta dan di salah satu
tuntutan mereka adalah percepatan pergantian kepemimpinan nasional menjadi
syarat utama. Seruan menurunkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono
menggelora. Cenederung aksi/gerakan mahasiswa terlalu emosional menyikapi carut
marut sistem presidensil dan situasi nasional sekarang. Kalau mau percepatan,
harus ada tatanan dan sistemnya terlebih dahulu. Bagaimana supaya tidak terjadi
kekacauan dan gejolak dimana-mana.
Gerakan mahasiswa sejati selalu bertumpu pada idealisme kerakyatan, yaitu mengkritisi peran atau kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat dengan memberikan solusinya yang berkeadilan sosial. Sekarang ini banyak gerakan mahasiswa ditunggangi oleh satu kekuatan partai politik, kelompok elite, atau pemodal tertentu. Gerakan mahasiswa telah ditunggangi pihak-pihak tertentu hanya bertujuan untuk kepentingan politik pragmatis semata. Pergerakan kalangan ini sudah di-setting oleh pihak-pihak tertentu.
Gerakan mahasiswa semacam inilah yang dinamakan dipolitisasi atau depolitisasi. Semangat perjuangan gerakan mereka bukan lagi untuk rakyat, melainkan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karakteristik gerakan ini cenderung tidak konsisten dan konsekuen terhadap isu yang diusungnya. Mahasiswa adalah generasi penerus harapan bangsa, yang sangat dibutuhkan dan didambakan visi kerakyatan kepemimpinannya. Jika sebelum menjadi pemimpin saja sudah demikian, bagaimanakah nasib bangsa dan negara ini di masa depan saat mereka memimpin?
Unjuk rasa yang sering dilakukan oleh mahasiswa akhir-akhir ini sering menjurus ke tindakan kekerasan dan anarkisme. Ini sungguh memalukan. Meski bagaimanapun unjuk rasa atau demonstrasi itu hanyalah salah satu metode untuk mengungkapkan dan mengevaluasi kepemimpinan yang sedang berkuasa. Aksi/Gerakan Mahasiswa harus memikirkan potensi kehancuran negara kalau perubahan itu didasari emosi belaka dan selalu menerapkan trial and error. Bisa terjadi perebutan kekuasaan di daerah-daerah, terjadilah negara-negara kecil seperti Uni Soviet.
Gerakan mahasiswa sejati selalu bertumpu pada idealisme kerakyatan, yaitu mengkritisi peran atau kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat dengan memberikan solusinya yang berkeadilan sosial. Sekarang ini banyak gerakan mahasiswa ditunggangi oleh satu kekuatan partai politik, kelompok elite, atau pemodal tertentu. Gerakan mahasiswa telah ditunggangi pihak-pihak tertentu hanya bertujuan untuk kepentingan politik pragmatis semata. Pergerakan kalangan ini sudah di-setting oleh pihak-pihak tertentu.
Gerakan mahasiswa semacam inilah yang dinamakan dipolitisasi atau depolitisasi. Semangat perjuangan gerakan mereka bukan lagi untuk rakyat, melainkan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karakteristik gerakan ini cenderung tidak konsisten dan konsekuen terhadap isu yang diusungnya. Mahasiswa adalah generasi penerus harapan bangsa, yang sangat dibutuhkan dan didambakan visi kerakyatan kepemimpinannya. Jika sebelum menjadi pemimpin saja sudah demikian, bagaimanakah nasib bangsa dan negara ini di masa depan saat mereka memimpin?
Unjuk rasa yang sering dilakukan oleh mahasiswa akhir-akhir ini sering menjurus ke tindakan kekerasan dan anarkisme. Ini sungguh memalukan. Meski bagaimanapun unjuk rasa atau demonstrasi itu hanyalah salah satu metode untuk mengungkapkan dan mengevaluasi kepemimpinan yang sedang berkuasa. Aksi/Gerakan Mahasiswa harus memikirkan potensi kehancuran negara kalau perubahan itu didasari emosi belaka dan selalu menerapkan trial and error. Bisa terjadi perebutan kekuasaan di daerah-daerah, terjadilah negara-negara kecil seperti Uni Soviet.
Wawan Budyawan, Spd
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
sumber : http://www.mimbar-opini.com

RSS Feed
Twitter
10:21 PM
WAWAN GUNAWAN
0 comments:
Post a Comment